Google sebut perubahan Search di Eropa sebagai penurunan kualitas terbesar dalam 29 tahun. Pelajari dampak DMA dan pelajaran untuk strategi brand di Indonesia.
Ada momen langka ketika raksasa teknologi mengakui kelemahannya sendiri. Pada awal 2026, Alphabet—perusahaan induk Google—mengeluarkan peringatan yang mengejutkan: perubahan yang mereka lakukan pada hasil pencarian di Eropa untuk mematuhi Digital Markets Act (DMA) telah menyebabkan “pengurangan kualitas layanan terbesar dalam 29 tahun sejarah Google Search” .
Pernyataan ini bukanlah retorika. Ini adalah pengakuan bahwa regulasi—yang dirancang untuk menciptakan persaingan yang lebih adil—telah memaksa Google untuk mengubah cara kerjanya secara fundamental, dan hasilnya adalah pengalaman pencarian yang lebih buruk bagi pengguna. Google menyatakan bahwa “harga yang dibayar pengguna adalah relevansi yang lebih rendah, kualitas yang lebih rendah, dan pengalaman yang lebih buruk” .
Bagi brand di Indonesia, peristiwa ini adalah pengingat penting tentang risiko ketergantungan pada satu platform. Ketika regulasi dapat mengubah lanskap pencarian secara fundamental dalam hitungan bulan, brand yang tidak mendiversifikasi saluran mereka akan sangat rentan. Artikel ini akan membahas apa yang terjadi di Eropa, mengapa Google menyebutnya sebagai penurunan kualitas terbesar dalam 29 tahun, dan pelajaran yang dapat diambil untuk strategi brand di Indonesia.
Apa Itu Digital Markets Act (DMA)?
Regulasi Uni Eropa untuk Menciptakan Persaingan yang Adil
Digital Markets Act (DMA) adalah regulasi Uni Eropa yang mulai berlaku pada 2024. Tujuannya adalah untuk membatasi kekuatan perusahaan teknologi besar yang bertindak sebagai “gatekeeper” —platform yang mengontrol akses ke pasar digital. Google, Apple, Meta, Amazon, dan Microsoft adalah beberapa perusahaan yang ditetapkan sebagai gatekeeper di bawah DMA.
Salah satu ketentuan DMA yang paling kontroversial adalah larangan self-preferencing—praktik di mana platform memprioritaskan layanan mereka sendiri di atas kompetitor. DMA mewajibkan gatekeeper untuk memberikan perlakuan yang adil dan non-diskriminatif terhadap layanan pihak ketiga yang bersaing dengan layanan mereka sendiri.
Apa yang Berubah di Search Eropa?
Layanan Pencarian Khusus (Vertical Search Services) Dapat Posisi Lebih Menonjol
Untuk mematuhi DMA, Google mengubah tampilan hasil pencarian di Eropa. Perubahan utamanya adalah:
1. Situs perbandingan harga mendapat posisi lebih tinggi
Situs seperti Expedia, Booking.com, dan platform perbandingan harga lainnya kini dapat muncul lebih menonjol di hasil pencarian—sejajar dengan layanan Google sendiri seperti Google Flights dan Google Hotels.
2. Bisnis lokal dengan hanya link, telepon, dan alamat mendapat posisi lebih rendah
Bisnis lokal yang hanya menyediakan informasi dasar (link, telepon, alamat) mungkin muncul lebih rendah di hasil pencarian, sementara platform agregator seperti Yelp dan TripAdvisor mendapat posisi lebih baik.
3. Harga real-time dihilangkan dari tampilan
Google menghapus tampilan harga real-time dari hasil pencarian untuk beberapa kategori, karena dianggap memberikan keunggulan kompetitif yang tidak adil bagi layanan Google.
Dampak terhadap Traffic Bisnis Eropa
Google mengklaim bahwa perubahan ini telah menyebabkan penurunan traffic pemesanan langsung dan gratis ke bisnis Eropa hingga 30% . Bisnis lokal yang selama ini mengandalkan Google Search untuk mendapatkan pelanggan langsung kini harus bersaing dengan platform agregator yang lebih besar dan lebih kaya.
Denda dan Tekanan Regulator UE
Denda 460 Juta Euro pada Juli 2026
Tekanan regulasi terhadap Google tidak berhenti pada perubahan tampilan pencarian. Pada Juli 2026, Google didenda 460 juta euro oleh regulator UE karena dianggap memprioritaskan layanan sendiri di hasil pencarian. Denda terpisah sebesar 430 juta euro juga dikenakan terkait praktik Google Play.
Total denda antitrust yang pernah dikenakan UE terhadap Google kini mencapai 10,38 miliar euro—angka yang mencengangkan yang mencerminkan betapa seriusnya regulator Eropa dalam menegakkan aturan persaingan.
Google: “Pengurangan Kualitas Terbesar dalam 29 Tahun”
Dalam pernyataan resminya, Alphabet menyebut perubahan ini sebagai “pengurangan kualitas layanan terbesar dalam 29 tahun sejarah Google Search” . Google berargumen bahwa DMA telah memaksa mereka untuk mengubah cara kerja algoritma mereka sedemikian rupa sehingga pengalaman pengguna menjadi lebih buruk—bukan lebih baik.
Google juga memperingatkan bahwa perubahan ini dapat merugikan bisnis kecil dan menengah di Eropa, karena mereka kini harus bersaing dengan platform agregator besar untuk mendapatkan visibilitas di hasil pencarian.
Pelajaran untuk Brand di Indonesia
1. Regulasi Dapat Mengubah Lanskap Search Secara Fundamental
Peristiwa di Eropa adalah pengingat bahwa regulasi dapat mengubah lanskap search secara fundamental dalam hitungan bulan. Di Indonesia, meskipun belum ada regulasi yang setara dengan DMA, bukan tidak mungkin pemerintah akan mengadopsi pendekatan serupa di masa depan.
Apa yang harus dilakukan:
-
Pantau perkembangan regulasi: Ikuti berita tentang regulasi digital di Indonesia dan Asia Tenggara.
-
Jangan bergantung pada satu platform: Diversifikasi saluran traffic Anda.
-
Bangun direct relationship dengan pelanggan: Email list, WhatsApp, dan komunitas adalah aset yang tidak bisa diambil platform.
2. Diversifikasi Channel: Jangan Bergantung pada Satu Platform
Peristiwa DMA menunjukkan bahwa ketergantungan pada satu platform adalah risiko strategis. Ketika regulasi berubah, brand yang tidak memiliki diversifikasi akan sangat rentan.
Apa yang harus dilakukan:
-
Bangun direct traffic: Email marketing, WhatsApp marketing, dan komunitas adalah saluran yang tidak bisa diambil AI atau regulator.
-
Optimasi untuk multiple platform: Google, ChatGPT, Perplexity, Gemini, YouTube, TikTok, marketplace.
-
Investasi di brand: Brand yang kuat memiliki pelanggan yang datang langsung—tanpa perlu perantara.
3. Bangun Direct Traffic dan Brand Loyalty
Direct traffic adalah aset paling berharga di era AI search. Pengguna yang mengetik URL Anda langsung ke browser, atau yang membuka email Anda, adalah pengguna yang tidak bergantung pada algoritma atau regulasi.
Apa yang harus dilakukan:
-
Bangun email list: Tawarkan konten eksklusif, diskon, atau akses awal untuk mendorong pendaftaran.
-
Manfaatkan WhatsApp: Platform komunikasi utama di Indonesia—bangun komunitas dan kirim update secara teratur.
-
Bangun komunitas: Forum, grup Facebook, atau platform komunitas lainnya.
-
Bangun brand loyalty: Pelanggan yang puas akan kembali—tanpa perlu mencari Anda di Google.
4. Fokus pada AI Citations dan GEO
Ketika traffic dari Google menurun—baik karena AI Overviews atau regulasi—AI citations menjadi semakin penting. Brand perlu memastikan bahwa mereka dikutip dan direkomendasikan oleh AI—bukan hanya ranking di Google.
Apa yang harus dilakukan:
-
Bangun entity strength: Wikidata, Knowledge Panel, konsistensi data.
-
Dapatkan earned media: Liputan di media tier-1 yang dipercaya AI.
-
Bangun kehadiran di platform komunitas: Reddit, Quora, forum industri.
-
Optimasi untuk AI extraction: BLUF, heading berbasis pertanyaan, schema markup.
5. Siapkan Strategi Kontingensi
Peristiwa DMA menunjukkan bahwa perubahan dapat terjadi dengan cepat. Brand perlu memiliki strategi kontingensi untuk menghadapi perubahan lanskap search yang tidak terduga.
Apa yang harus dilakukan:
-
Identifikasi risiko: Platform mana yang paling penting untuk traffic Anda? Apa yang terjadi jika platform itu berubah?
-
Bangun saluran alternatif: Jika Google berubah, di mana Anda akan mendapatkan traffic?
-
Uji dan iterasi: Jangan menunggu perubahan terjadi—mulai bereksperimen dengan saluran baru sekarang.
Kesimpulan: Ketidakpastian Regulasi dan Strategi Adaptif
Google Search Quality Decline 2026 di Eropa adalah pengingat penting tentang risiko ketergantungan pada satu platform. Ketika DMA memaksa Google untuk mengubah cara kerjanya, hasilnya adalah “pengurangan kualitas layanan terbesar dalam 29 tahun” —dan penurunan traffic hingga 30% bagi bisnis Eropa.
Bagi brand di Indonesia, pelajarannya jelas:
-
Regulasi dapat mengubah lanskap search secara fundamental —pantau perkembangan dan siapkan strategi kontingensi.
-
Diversifikasi channel —jangan bergantung pada satu platform.
-
Bangun direct traffic dan brand loyalty —aset yang tidak bisa diambil AI atau regulator.
-
Fokus pada AI citations dan GEO —masa depan visibilitas ada di AI search.
-
Siapkan strategi kontingensi —perubahan dapat terjadi dengan cepat.
Langkah yang bisa Anda ambil hari ini:
-
Audit ketergantungan platform Anda: Berapa persen traffic Anda dari Google? Apa yang terjadi jika Google berubah?
-
Bangun direct traffic: Email list, WhatsApp, komunitas.
-
Diversifikasi ke platform AI: ChatGPT, Perplexity, Gemini.
-
Bangun entity strength: Wikidata, Knowledge Panel, schema markup.
-
Pantau regulasi: Ikuti perkembangan DMA dan regulasi digital di Indonesia.
Di era AI search, ketidakpastian adalah satu-satunya kepastian. Brand yang adaptif—yang tidak bergantung pada satu platform, yang membangun direct relationship dengan pelanggan, dan yang siap menghadapi perubahan—akan bertahan dan menang. Brand yang mengabaikan risiko ini akan menjadi korban perubahan yang tidak mereka kendalikan.