Pasar Antena untuk Perangkat IoT Akan Capai Lebih dari 7 Miliar Unit pada 2025

November 3, 2025

Seiring proliferasi perangkat IoT (Internet of Things) di seluruh dunia, komponen-komponen yang sebelumnya dianggap “sub‑komponen” seperti antena kini menjadi elemen vital. Lembaga riset ABI Research memproyeksikan bahwa hingga tahun 2025, lebih dari 7,2 miliar unit antena akan dikirim ke perangkat IoT—tanda bahwa pasar antena untuk IoT akan memasuki fase skala besar.

Artikel ini mengulas angka‑proyeksi tersebut, faktor pendorongnya, tantangan desain dan integrasi antena di era IoT, serta implikasi bagi produsen antena dan pengembang perangkat.


Angka Proyeksi dan Sumber Riset

Menurut rilis ABI Research yang dipublikasikan melalui PR Newswire, “By 2025, 7.2 billion antennas will be shipped for IoT devices – nearly threefold of what it is today.”
Analisis lain juga menyebutkan bahwa kompetisi dan kompleksitas teknologi akan mendorong pengiriman antena ke perangkat IoT hingga mencapai 7,2 miliar unit pada 2025.

Angka ini menegaskan bahwa setiap perangkat IoT baru—sensor, actuator, gateway, wearable, smart home device—kemungkinan besar memerlukan setidaknya satu antena (sering lebih dari satu) dan bahwa komponen antena akan menjadi pasar dengan skala volume sangat besar.


Faktor‑Pendorong Pertumbuhan

Beberapa faktor utama yang mendorong lonjakan pengiriman antena ke perangkat IoT antara lain:

  1. Pertumbuhan jumlah perangkat IoT
    Dengan semua jenis aplikasi—smart home, industri, transportasi, pertanian, kesehatan—jumlah perangkat yang terhubung terus naik. Contoh: menurut IoT Analytics jumlah perangkat IoT yang terhubung diperkirakan mencapai 18,8 miliar di akhir 2024.

  2. Miniaturisasi & multi‑radio
    Perangkat IoT semakin kecil dan sering menggunakan beberapa radio (WiFi, LPWA, seluler, Bluetooth) sehingga memerlukan antena yang lebih banyak atau lebih kompleks. ABI Research menyebut bahwa “evolution of existing devices requiring multiple radios, smaller form factors, and greater device breadth” menjadi penyebab tantangan antena.

  3. Teknologi jaringan baru & spektrum
    Dengan adopsi LPWA (Low‑Power Wide Area), NB‑IoT, 5G IoT, dan bahkan persiapan untuk 6G, perangkat IoT memerlukan antena yang mendukung band dan protokol yang beragam. Hal ini meningkatkan kompleksitas desain antena dan volumenya.

  4. Ekspansi ke aplikasi vertikal
    Industri seperti smart manufacturing, smart agriculture, connected vehicles, smart utility, dan smart cities membutuhkan banyak perangkat IoT, sehingga memperbesar kebutuhan antena dalam skala besar.


Tantangan Desain & Integrasi Antena untuk IoT

Meskipun peluang besar, ABI Research dan sumber lain menunjukkan sejumlah tantangan kritis terkait antena dalam ekosistem IoT:

  • Desain antena sebagai penyebab kegagalan produk: “The antenna is one of the most common causes of failure when creating a new IoT product.”

  • Interferensi dan lingkungan fisik: Dekat logam, tubuh manusia, objek bergerak, PCB penuh komponen—semua ini bisa mengubah karakteristik antena dan performanya.

  • Miniaturisasi dan integrasi multi‑radio: Perangkat sangat kecil menuntut antena yang sangat kecil atau terintegrasi PCB (embedded). Hal ini mempersulit pencapaian performa yang sama dengan antena besar.

  • Sertifikasi dan regulasi: Banyak perangkat IoT harus lulus regulasi radio, EMC, dan harus kompatibel jaringan. Integrasi antena yang buruk bisa menyebabkan biaya tinggi dan penundaan.

  • Vendor antena harus adaptif: ABI Research menyebut bahwa vendors antena perlu lebih kolaboratif dengan OEM karena tantangan integrasi semakin kompleks.


Implikasi bagi Produsen Antena dan OEM IoT

Dengan prediksi volume besar, berikut beberapa implikasi strategis:

  • Produsen antena: Pasar volume tinggi membuka peluang besar, namun juga persaingan ketat, margin yang mungkin menipis, dan kebutuhan untuk solusi antena terintegrasi atau modul lengkap (antenna + matching network) yang memudahkan OEM.

  • OEM / pembuat perangkat IoT: Harus memperhitungkan antena sejak awal desain produk, karena kesalahan desain antena bisa menghabiskan biaya besar atau menyebabkan produk gagal.

  • Kolaborasi desain: OEM, vendor antena, dan integrator PCB/radio harus bekerja bersama lebih awal dalam siklus produk.

  • Inovasi antena: Solusi seperti antena wide‑band yang bisa mendukung banyak frekuensi, antena miniatur, atau antena virtual (matching network) menjadi penting. ABI menyebut teknologi “Virtual Antenna” sebagai pendekatan baru.

  • Segmentasi pasar: Antena untuk IoT industri, wearable, smart home, kendaraan, pertanian—all akan memiliki karakteristik yang berbeda dan memerlukan spesialisasi.


Perspektif Negara Berkembang & Asia Pasifik

Bagi pasar seperti Indonesia dan Asia Tenggara, tren ini sangat relevan karena:

  • Banyak proyek smart‑city, smart agriculture, dan smart infrastructure yang mulai menggunakan perangkat IoT.

  • Kebutuhan konektivitas untuk perangkat di area terpencil memicu pertumbuhan LPWA dan IoT, artinya volume antena di perangkat ini akan tumbuh.

  • Produsen lokal atau regional dapat memanfaatkan peluang untuk memasok antena atau modul antena bagi OEM global atau regional.


Ringkasan

Riset menyebut bahwa hingga 2025, pengiriman antena ke perangkat IoT akan menembus lebih dari 7 miliar unit—suatu angka yang mencerminkan betapa luasnya pasar komponen ini. Meski penuh peluang, tantangan desain, integrasi, dan produksi dalam skala besar tidak bisa diremehkan.

Bagi pembaca antennachan.com yang tertarik dengan dunia antena dan komunikasi nirkabel, berita ini menggambarkan bahwa “antena” bukan hanya untuk menara atau handset besar — tapi komponen yang akan hadir masif dalam perangkat IoT di seluruh dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *